Makan Bergizi Gratis sebagai Investasi Strategis Sumber Daya Manusia Indonesia – TIMES Indonesia

Malang–ProgramMakan Bergizi Gratis(MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah yang mulai dijalankan pada Januari 2025 di bawah pemerintahan P

Malang–ProgramMakan Bergizi Gratis(MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah yang mulai dijalankan pada Januari 2025 di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk mendukung pemenuhan gizi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjadi bagian dari agenda pembangunan manusia Indonesia.

Dalam satu tahun pelaksanaan, cakupan program berkembang pesat. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sekitar 55,1 juta penerima manfaat pada awal Januari 2026 dengan dukungan 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 38 provinsi.

Skala tersebut menunjukkan bahwa MBG bukan lagi sekadar program intervensi gizi berskala terbatas. Ia telah berkembang menjadi kebijakan publik dengan konsekuensi sosial, ekonomi, dan fiskal yang besar.

Karena itu, MBG perlu dibaca bukan hanya dari berapa banyak makanan yang dibagikan setiap hari, tetapi juga dari pertanyaan yang lebih mendasar: apakah program tersebut mampu menjadi investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia?

Secara teoretis, MBG dapat dijelaskan melalui sejumlah kerangka konseptual yang saling melengkapi.

Pertama,Human Capital Theoryyang dikembangkan antara lain oleh Theodore W. Schultz dan Gary Becker menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai investasi yang dapat meningkatkan produktivitas manusia.

Dalam kerangka tersebut, gizi yang baik merupakan salah satu prasyarat bagi proses belajar dan perkembangan manusia. Intervensi gizi sejak usia sekolah dapat dipandang sebagai investasi sosial untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Dengan perspektif ini, makanan bergizi bukan sekadar konsumsi harian. Ia menjadi bagian dari investasi negara terhadap kapasitas belajar, kesehatan, dan produktivitas generasi mendatang.

Kedua,Capability Approachyang dikembangkan Amartya Sen melihat kesejahteraan bukan semata-mata dari jumlah sumber daya yang diterima seseorang, melainkan dari kemampuan atau kebebasan nyata seseorang untuk menjalani kehidupan yang bernilai.

Dalam perspektif ini, akses terhadap pangan bergizi dan pendidikan merupakan bagian dari kemampuan dasar yang memungkinkan anak berkembang secara optimal.

Namun, pendekatan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa intervensi negara tidak cukup berhenti pada pemberian barang. Program harus diarahkan untuk memperluas kemampuan dan kesempatan masyarakat secara berkelanjutan.

Ketiga, dari perspektifBig Push Theoryyang dikembangkan Paul N. Rosenstein-Rodan, intervensi berskala besar dapat menjadi pendorong perubahan struktural apabila mampu menciptakan keterkaitan antarsektor ekonomi.

Dalam konteks MBG, gagasan tersebut relevan karena belanja program dapat menciptakan permintaan terhadap produk pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha pangan di berbagai daerah.

Pemerintah sendiri menempatkan MBG sebagai salah satu instrumen yang memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Pada 2026, dukungan fiskal untuk BGN mencapai Rp268 triliun dalam APBN, ditambah dana cadangan Rp67 triliun sehingga total dukungan yang disiapkan mencapai Rp335 triliun.

Keempat, dari perspektif keadilan sosial, MBG dapat dikaitkan dengan gagasanjustice as fairnessJohn Rawls. Negara memiliki tanggung jawab memastikan kelompok yang paling rentan memperoleh kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mengembangkan kapasitasnya.

Dalam konteks Indonesia, pemenuhan gizi anak juga berkaitan dengan amanat pembangunan manusia serta prinsip keadilan sosial dalam Pancasila.

Landasan teoretis akan menjadi lebih bermakna apabila dapat diuji melalui bukti empiris.

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa program pemberian makanan di sekolah dapat memberikan manfaat terhadap pendidikan dan kesehatan. Studi yang dirujuk dalam naskah ini menunjukkan, antara lain, peningkatan asupan gizi dan kebiasaan makan sehat pada penerima program.

Kajian Cochrane 2025 mengenai program pemberian makanan di sekolah di negara berpendapatan rendah dan menengah juga menemukan adanya peningkatan pada sejumlah indikator pendidikan, termasuk skor matematika dan angka pendaftaran sekolah.

Di Indonesia, evaluasi Kemendikdasmen memberikan gambaran mengenai salah satu dampak awal MBG terhadap proses pembelajaran.

Evaluasi yang melibatkan 1.203.309 responden murid secara nasional, dengan perbandingan databaselineMei–Juni 2025 danendlineNovember–Desember 2025, menunjukkan sekolah penerima MBG mengalami penurunan gangguan belajar akibat lapar sebesar 2,37 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum menerima MBG. Di wilayah Indonesia Timur, selisih tersebut mencapai 14,85 poin persentase.

Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara intervensi pemenuhan gizi dan kesiapan mengikuti pembelajaran. Namun, hasil tersebut tetap perlu dibaca sebagai hasil evaluasi pada indikator tertentu, bukan sebagai bukti bahwa seluruh dampak pendidikan MBG telah terbukti secara menyeluruh.

Di luar aspek akademik, program makan di sekolah juga dapat menjadi ruang pendidikan karakter. P

Baca Juga


Sumber asli: “”Makan Bergizi Gratis” Indonesia” – Google Berita