KDMP Sidomulyo Bertahan Meski Pengurus Belum Digaji

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sidomulyo di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memperlihatkan tantangan nyata di balik agenda besar penguatan ekon

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sidomulyo di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memperlihatkan tantangan nyata di balik agenda besar penguatan ekonomi desa. Sejak mulai berjalan pada 12 Juli 2025, koperasi ini masih berupaya membangun usaha dengan pendapatan yang terbatas. Hingga lebih dari setahun, Sarjiman bersama pengurus lain belum menerima gaji karena hasil usaha koperasi baru cukup untuk kebutuhan operasional dasar, seperti listrik, internet, dan rapat. Meski demikian, mereka memilih tetap melayani warga, mencari peluang usaha, serta memperluas keanggotaan di tengah kebutuhan modal dan kepercayaan masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Pengurus Menjalankan Koperasi Tanpa Gaji

Keberlangsungan KDMP Sidomulyo saat ini sangat bergantung pada komitmen para pengurusnya. Sarjiman dan rekan-rekannya tetap menjalankan aktivitas koperasi tanpa imbalan rutin. Kondisi tersebut mencerminkan tahap awal usaha koperasi yang belum menghasilkan surplus memadai untuk membayar tenaga pengelola.

“Karena koperasi ini kan hasil usahanya baru sekian, untuk bayar kita-kita pengurus belum bisa. Jadi, cuma cukup masih untuk listrik, juga untuk rapat, juga untuk Wi-Fi,” kata Sarjiman.

Keterbatasan hasil usaha membuat prioritas koperasi masih tertuju pada menjaga kegiatan tetap berjalan. Pengeluaran rutin, meski nilainya terlihat mendasar, menjadi beban yang harus dipenuhi agar pelayanan kepada anggota dan pembeli tidak terhenti. Dalam situasi seperti ini, pengurus bukan hanya mengelola administrasi, tetapi juga harus mencari pembeli, mengatur barang dagangan, serta membuka peluang pemasukan baru.

Modal Barang Menjadi Kebutuhan Mendesak

KDMP Sidomulyo telah menerima dukungan dari pemerintah kalurahan dalam bentuk gedung, kipas angin, lemari es, dan sejumlah perlengkapan lain. Fasilitas tersebut memberi fondasi fisik bagi operasional koperasi. Namun, keberadaan tempat usaha belum otomatis membuat kegiatan perdagangan dapat berkembang jika persediaan barang belum cukup kuat.

Bagi koperasi yang menjual kebutuhan sehari-hari, ketersediaan barang menjadi faktor penting untuk menarik warga datang dan berbelanja. Semakin terbatas stok yang tersedia, semakin kecil pula ruang koperasi untuk meningkatkan transaksi. Sebaliknya, penambahan barang memerlukan modal, sementara pendapatan KDMP Sidomulyo masih terbatas. Kondisi ini menciptakan tantangan berputar: koperasi membutuhkan stok untuk menaikkan penjualan, tetapi perlu penjualan yang lebih besar untuk menambah modal.

Karena itu, persoalan pengembangan koperasi tidak berhenti pada penyediaan bangunan atau peralatan. Penguatan usaha juga berkaitan dengan kemampuan koperasi menjaga persediaan, mengelola arus pendapatan, dan memastikan kegiatan ekonomi yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan warga setempat.

Membangun Kembali Kepercayaan Anggota

Tantangan lain yang dihadapi KDMP Sidomulyo adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap koperasi. Sebagian warga memiliki pengalaman buruk dengan koperasi simpan pinjam sebelumnya. Latar belakang tersebut membuat proses mengajak masyarakat bergabung tidak dapat dilakukan secara instan, sekalipun koperasi membawa tujuan ekonomi bersama.

Hingga kini, KDMP Sidomulyo telah menghimpun 204 anggota. Dalam skala target nasional, angka itu mungkin terlihat terbatas. Namun, bagi pengurus di lapangan, setiap tambahan satu atau dua anggota membutuhkan pendekatan dan pembuktian bahwa koperasi dapat dikelola secara konsisten. Kepercayaan pada akhirnya bukan hanya dibangun melalui ajakan, melainkan melalui pelayanan, keterbukaan, dan keberlanjutan kegiatan usaha.

Ujian bagi Target Kopdes Merah Putih

Kisah KDMP Sidomulyo menjadi gambaran lapangan menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2026. Kopdes Merah Putih merupakan salah satu program besar pemerintahan Prabowo untuk menggerakkan ekonomi dari desa, dengan target mencapai 80.000 koperasi di seluruh Indonesia.

Target tersebut menunjukkan ambisi besar untuk memperluas peran koperasi dalam perekonomian desa. Namun, pengalaman di Sidomulyo menegaskan bahwa pendirian koperasi perlu diikuti penguatan usaha secara bertahap. Koperasi harus mampu memperoleh pembeli, membangun anggota, menyediakan barang, dan membiayai operasional sebelum dapat memberi penghasilan kepada pengurusnya.

Keteguhan Sarjiman dan pengurus KDMP Sidomulyo menunjukkan bahwa koperasi desa tidak hanya dibangun melalui target kelembagaan, tetapi juga melalui kerja sehari-hari yang panjang. Dukungan fasilitas telah tersedia, tetapi penguatan modal usaha dan pemulihan kepercayaan masyarakat akan menentukan apakah koperasi dapat tumbuh menjadi penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan.

Baca Juga


Sumber asli: “Kopdes OR “Koperasi Desa Merah Putih”” – Google Berita