Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik serta 11 proyek industri di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halma
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik serta 11 proyek industri di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis. Agenda ini menandai langkah penting dalam pengembangan hilirisasi mineral dan ekosistem kendaraan listrik nasional, terutama melalui pengolahan nikel menjadi produk bernilai tambah. Total nilai investasi dari proyek yang diluncurkan mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun, sekaligus memperkuat posisi kawasan industri di Maluku Utara dalam rantai pasok industri pengolahan dan energi bersih.
Empat Proyek Memasuki Tahap Komersial
Peluncuran dilakukan dengan penekanan sirine oleh Presiden Prabowo, didampingi Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, serta pimpinan perusahaan terkait. Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan dimulainya pengoperasian sejumlah proyek industri yang telah selesai dibangun.
“Dengan mengucapkanbismillahirrahmanirrahim, pada hari ini saya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan empat proyek industri yang memasuki tahap komersial,” kata Presiden.
Empat proyek yang memasuki tahap komersial adalah Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioneer Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing. Nilai investasi keempat proyek tersebut mencapai 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun. Beroperasinya fasilitas-fasilitas itu menunjukkan bahwa investasi di kawasan IWIP tidak hanya berhenti pada pembangunan smelter atau pengolahan bahan mentah, tetapi mulai berkembang menuju manufaktur produk industri yang lebih beragam.
Tujuh Proyek Baru Perluas Rantai Industri
Selain meresmikan proyek yang telah beroperasi, Presiden juga mencanangkan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk tujuh proyek industri baru. Ketujuh proyek itu ialah Guangqing Nickel Cobalt, Eno Prima Material, Tinci Materials Indonesia, Weda Bay Aluminium, Bintang Karya Aluminium, Flat Solar Energy Indonesia, dan Guangqing Motor Indonesia.
Proyek yang mulai dibangun tersebut bernilai 6,8 miliar dolar AS. Menurut Rosan Roeslani, cakupan investasi baru ini meliputi material baterai berbasis nikel, separator dan elektrolit baterai kendaraan listrik, aluminium elektrolitik, truk listrik untuk pertambangan dan industri, serta kaca fotovoltaik untuk industri energi surya. Jenis investasi tersebut penting karena menciptakan keterhubungan antara industri mineral, manufaktur kendaraan listrik, dan pengembangan energi surya.
Dari sisi ekonomi, perluasan jenis produk dapat meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri. Pengolahan nikel menjadi bahan baterai, misalnya, memberi peran lebih besar bagi Indonesia dalam mata rantai industri kendaraan listrik dibandingkan ekspor mineral dalam bentuk yang lebih awal. Sementara itu, pembangunan industri aluminium, kendaraan listrik untuk sektor industri, dan kaca fotovoltaik memperluas basis manufaktur kawasan.
Lapangan Kerja dan Peran Maluku Utara
Seluruh proyek yang diluncurkan diperkirakan menciptakan lebih dari 10 ribu lapangan kerja. Dampaknya tidak hanya terkait penyerapan tenaga kerja langsung di fasilitas industri, tetapi juga berpotensi mendukung aktivitas ekonomi pendukung di sekitar kawasan, seperti jasa, perdagangan, logistik, dan kebutuhan perumahan. Namun, manfaat tersebut akan sangat bergantung pada kesiapan tenaga kerja, kualitas infrastruktur, serta kemampuan daerah memastikan pertumbuhan industri berjalan inklusif.
Rosan melaporkan realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen, dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja. Kontribusi hilirisasi terhadap total investasi juga naik dari 25 persen menjadi 35 persen dalam dua tahun terakhir, dengan lebih dari 75 persen terealisasi di luar Jawa. Data ini menggambarkan pergeseran investasi ke daerah-daerah yang memiliki sumber daya dan kawasan industri strategis.
Di Maluku Utara, industri pengolahan menurut Rosan menyumbang hampir separuh produk domestik bruto provinsi. Surplus perdagangan Maluku Utara mencapai 31,1 triliun [satuan] pada 2025, yang didominasi produk olahan nikel seperti ferronikel, nikel matte, MHP, nikel sulfat, dan kobalt. Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh industri pengolahan terhadap struktur ekonomi daerah.
Skala IWIP dan Arah Hilirisasi
Kawasan IWIP kini memiliki 52 penyewa dari berbagai negara, termasuk Glencore dan Trafigura. Sejak 2018, kawasan itu menyerap investasi 20 miliar dolar AS. Dengan tambahan sekitar 7 miliar dolar AS, total investasinya menjadi 27 miliar dolar AS dan mempekerjakan 117 ribu orang. Nilai ekspor kawasan mencapai 11 miliar dolar AS.
Jika digabung dengan Kawasan Industri Morowali, total ekspor mencapai 28 miliar dolar AS atau sekitar 10 persen dari ekspor Indonesia. Peluncuran ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan proyek-proyek baru di IWIP karena itu menjadi bagian dari agenda yang lebih luas: memperdalam hilirisasi, meningkatkan ekspor produk olahan, serta memperluas pusat pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Tantangan ke depan adalah menjaga agar peningkatan investasi dan ekspor tersebut diikuti oleh penciptaan kerja yang berkualitas serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Maluku Utara.
Baca Juga
Sumber asli: Berita Top News – ANTARA News