Aroma nori dan cuka beras yang biasanya lekat dengan sushi tidak mendominasi. Lapak tersebut justru dipenuhi wangi sambal dan mayones yang akrab dengan cit
Aroma nori dan cuka beras yang biasanya lekat dengan sushi tidak mendominasi. Lapak tersebut justru dipenuhi wangi sambal dan mayones yang akrab dengan cita rasa Indonesia.
Sushi sebagai Kanvas Cita Rasa
Di balik meja panjang itu berdiri seorang perempuan berusia 30 tahun, owner usaha bernama “JuraganSushi”. Baginya, sushi bukan sekadar makanan Jepang yang harus disajikan secara autentik, tetapi juga kanvas untuk menceritakan selera orang Indonesia.
Menjawab Keraguan Konsumen
Ide usaha ini berawal dari pengamatan terhadap tren kuliner Jepang yang digandrungi anak muda. Sang owner melihat bahwa tidak semua orang menyukai sushi otentik.
Bahan mentah, rasa cuka yang tajam, dan tampilan yang asing bagi lidah kebanyakan orang Indonesia membuat sebagian calon konsumen ragu mencoba. Dari kondisi tersebut muncul gagasan membuat sushi “berbicara” melalui rasa pedas, gurih, dan familiar.
JuraganSushi kemudian menghadirkan sushi sambal, sushi abon, sushi ayam cincang pedas, hingga mentai pedas. Ikan mentah diganti dengan ayam crispy atau bahan matang seperti nugget, sosis, dan bakso.
Saus pedas dan mayones turut ditambahkan untuk mendekatkan cita rasa “Jepang” dan “Indonesia” dalam satu gigitan.
Eksperimen Produk dan Promosi
Pengembangan produk berlangsung melalui banyak eksperimen. Owner memilih bahan, mengatur tingkat kepedasan, menentukan jenis topping, serta memikirkan tampilan agar produk tetap menarik secara visual.
Media sosial juga digunakan sebagai panggung promosi. Melalui penyesuaian bahan dan rasa, JuraganSushi menawarkan sushi Jepang dengan sentuhan yang lebih akrab bagi lidah Indonesia.
Baca Juga
Sumber asli: “kuliner Indonesia” – Google Berita