Ribuan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) masih menanti kepastian penugasan, besaran gaji, serta arah karier mereka setelah menyeles
Ribuan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) masih menanti kepastian penugasan, besaran gaji, serta arah karier mereka setelah menyelesaikan pelatihan. Situasi ini dialami Gilang dan Amir, nama yang disamarkan untuk melindungi privasi, yang termasuk dalam 29.830 calon manajer KDKMP. Keduanya telah menuntaskan pelatihan bela negara dan manajerial pada 31 Juli lalu, tetapi belum memperoleh kepastian mengenai lokasi kerja maupun skema penghasilan. Ketidakjelasan tersebut menjadi penting karena KDKMP merupakan program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran yang diproyeksikan berperan dalam penguatan ekonomi desa dan layanan kebutuhan masyarakat.
Menanti Kepastian Setelah Pelatihan 45 Hari
Gilang sebelumnya bekerja sebagai karyawan kontrak di sebuah perusahaan creative agency. Lelaki berusia 31 tahun dengan gelar sarjana pendidikan ekonomi itu mendaftar sebagai manajer KDKMP karena melihat peluang yang selaras dengan latar pendidikannya. Ketertarikannya juga dipengaruhi pengalaman temannya yang telah berprofesi mengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saya mendaftar di Mei lalu, mengetahui informasinya lewat sosial media TikTok, kebetulan ada teman saya yang sudah lolos menjadi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk MBG, melihat ada kesempatan saya pun tertarik,” katanya saat diwawancara DW Indonesia.
Sementara itu, Amir mengikuti seleksi setelah mendapat dorongan dari istrinya. Ia sebelumnya berharap dapat mengikuti penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), tetapi belum ada pembukaan pada tahun ini. “Sebetulnya saya ingin mendaftar bila ada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Namun, belum ada pembukaan di tahun ini ya jadi saya coba saja,” ungkap Amir.
Keduanya menjalani pendidikan selama 45 hari, terdiri atas pelatihan bela negara selama 30 hari dan pelatihan manajerial selama 15 hari. Tahapan tersebut menunjukkan bahwa calon manajer dipersiapkan tidak hanya untuk pekerjaan administratif, tetapi juga untuk memimpin operasional koperasi dan mengelola sumber daya di tingkat desa atau kelurahan.
Pelatihan Bela Negara dan Perdebatan Publik
Pelatihan yang melibatkan TNI sempat menjadi sorotan setelah lima peserta meninggal dunia yang diduga disebabkan oleh gangguan kesehatan. Selain itu, muncul kritik bahwa pendidikan militer tidak diperlukan bagi calon manajer koperasi. Kritik tersebut mencerminkan pertanyaan publik mengenai kesesuaian metode pelatihan dengan kebutuhan pekerjaan di sektor koperasi.
Namun, Gilang dan Amir menilai pelatihan itu memiliki manfaat bagi pembentukan kepemimpinan dan disiplin. “Pelatihan bela negara itu membentuk pribadi kami menjadi calon pemimpin. Kami dibiasakan dengan kegiatan yang tentara lakukan, yang menurut saya ituhabityang bagus,” ungkap Amir.
Gilang juga memandang latihan tersebut relevan dengan peran manajer koperasi. “Kami akan menjadi kepala yang membawahi staf-staf di koperasi. Latihan kepemimpinan dan kedisiplinan itu menjadi penting sehingga kami bisa mengangkat gerai untuk nantinya berguna bagi masyarakat di desa,” tambah Gilang.
Penempatan Menjadi Kunci Keberhasilan Program
Ketidakpastian utama kini berada pada tahap penempatan. Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, yang menjadi mitra pembangunan dan pelaksanaan operasional KDKMP, mengatakan masih menunggu keputusan dari Kementerian Koperasi terkait penempatan para manajer yang sudah disiapkan.
Padahal, seperti dilansir dari Detik pada Rabu (15/07), Menteri Koperasi Ferry Juliantono memastikan bahwa sekitar 30 ribu manajer KDKMP akan ditugaskan pada Agustus 2026. Meski sudah memasuki bulan September, Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah pada Selasa (01/09) mengeklaim bahwa proses penempatan calon manajer KDKMP masih berjalan sesuai jadwal dan tidak mengalami kendala.
Bagi peserta, kepastian penugasan dan gaji bukan sekadar persoalan administratif. Banyak calon manajer telah meluangkan waktu untuk seleksi dan pelatihan, bahkan mempertimbangkan perubahan jalur pekerjaan. Bagi masyarakat, penempatan yang jelas menentukan seberapa cepat koperasi dapat beroperasi dan memberi manfaat ekonomi di desa maupun kelurahan.
Keterkaitan dengan Ekosistem MBG
Pengalaman teman Gilang sebagai pengelola dapur MBG memperlihatkan bahwa program-program pemerintah di tingkat lokal dapat menarik tenaga kerja baru. Dalam konteks MBG, kebutuhan pangan, distribusi bahan baku, dan penguatan ekonomi lokal berpotensi bersinggungan dengan peran koperasi. Namun, manfaat tersebut bergantung pada kesiapan operasional, pembagian tugas yang jelas, serta kepastian bagi tenaga pengelola di lapangan.
Karena itu, pemerintah perlu segera menerjemahkan komitmen penempatan menjadi informasi yang pasti bagi para calon manajer. Kepastian lokasi kerja, tugas, gaji, dan mekanisme operasional akan menentukan kepercayaan peserta sekaligus kredibilitas program KDKMP sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Baca Juga
Sumber asli: “Kopdes OR “Koperasi Desa Merah Putih”” – Google Berita