Guru Besar STT Baptis Indonesia Semarang dan Sekum Forum Profesor Keagamaan Kristen Indonesia (FPKKI) Guru Besar STT Baptis Indonesia Semarang dan Sekum Fo
Guru Besar STT Baptis Indonesia Semarang dan Sekum Forum Profesor Keagamaan Kristen Indonesia (FPKKI)
Guru Besar STT Baptis Indonesia Semarang dan Sekum Forum Profesor Keagamaan Kristen Indonesia (FPKKI)
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI ATASkertas, program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dengan niat mulia, memutus rantai stunting, memulihkan gizi generasi muda, dan menyiapkan fondasi sumber daya manusia menuju Indonesia Emas.
Namun, realitas di lapangan kerap bergerak ke arah sebaliknya. Rentetan insiden keracunan pangan yang menimpa ratusan siswa di berbagai daerah bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan tanda bahaya yang kronis dan sistemik.
Yang kita lihat, ketika piring sekolah berujung pada ranjang puskesmas, publik mendapati pemandangan yang ganjil.
Para pejabat terkait terlibat dalam orkestrasi defensif di ruang publik.
Sangat kentara, ada keengganan untuk mengakui adanya masalah krusial dalam tata kelolaMBG. Sepertinya berbagai komentar itu meluncur dari orang-orang tanpa nurani.
Mengapa program yang menuai kecemasan publik ini seolah kebal terhadap koreksi mendasar?
Dilihat dari perspektif kebijakan publik, program yang menjadi mahakarya (signature policy) pemerintah ini, acap kali terjebak dalamsunk cost fallacydan gengsi elektoral.
MBG bukan sekadar pos anggaran di kementerian; ia adalah manifesto personal pemerintah saat ini yang dipertaruhkan sepanjang masa kampanye.
Membatalkan atau bahkan sekadar menghentikan sementara program ini akan dibaca oleh komunitas politik dan masyarakat sebagai pengakuan atas kekalahan dan kegagalan program tersebut.
Akibatnya, respons pejabat terkait terhadap kritik cenderung bersifat kosmetik dan menutup mata.
Kita menyaksikan beberapa kali pemerintah merombak pengelola, mencoret vendor katering, atau menerbitkan petunjuk teknis baru sebagai tameng untuk meredam kemarahan masyarakat.
Langkah-langkah ini memang tampak tegas di muka umum, namun pada hakikatnya akar penyakitnya belum tersentuh.
Ketidaksiapan infrastruktur rantai pasok dingin (cold chain), ketiadaan sertifikasi higienitas ketat, serta pemaksaan skala target yang melampaui kapasitas pengawasan Badan POM dan dinas kesehatan setempat, belum terdengar gaung praktisnya.
Di titik ini, MBG menjelma buah simalakama.
Diteruskan dengan cara lama, ia terus memakan korban dan menggerus kepercayaan publik; jika dihentikan, wibawa politik pemerintah pun akan dipertaruhkan.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Baca Juga
- Saham yang Diborong Asing Kemarin Saat Pergantian Menteri Keuangan – CNBC Indonesia
- Bentuk Satgas Khusus, Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Bikin Desa Untung – Suara.com
Sumber asli: “”Makan Bergizi Gratis” Indonesia” – Google Berita